Sebentar Lagi Tahun Baru!

Ditulis oleh : Hanna dan Fita
(Sahabat Muslimah FMIPA UNJ 2018)

Tinggal hitungan jam 2019 akan hadir menyapa kita, berbondong-bondong manusia akan merayakan kehadirannya dengan meriah. Kembang api yang paling indah akan diledakan di langit, terompet-terompet akan berbunyi saling bersahutan, bahkan mata ditahan agar tidak terpejam asalkan tidak melewati momen pergantian tahun ini.

Saudaraku, yuk kita merenung sejenak. Tentu seharusnya kita tahu mana yang baik dan mana yang sia-sia untuk dilakukan.

Tidakkah kita belajar dari pengalaman? Balita yang terluka karena petasan, orang sakit yang terganggu karena suara ledakan, dan juga ummat yang kehilangan ketentraman.

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani)

Di Amerika Serikat, U.S. Consumer Product Safety Commission (CPSC) setiap tahun mencatat ada ribuan korban kembang api dan petasan dari segala umur. Pada 2015, tercatat ada 11.900 korban petasan dan kembang api di AS. Angka ini setara dengan 3,7 orang setiap 100.000 penduduk. Jumlah korban petasan dan kembang api di AS itu tertinggi sejak 15 tahun terakhir.

Sementara itu di Indonesia, data lengkap soal korban petasan dan kembang api memang tak secanggih di AS. Namun dari fakta-fakta pemberitaan media, korban yang berjatuhan dari permainan petasan tak bisa diabaikan.

Tahun lalu, seorang bocah berumur lima tahun di Kecamatan Marpoyan Kota Pekanbaru, Provinsi Riau bernama Alfaro Prayata Dazain tewas akibat lontaran kaleng yang berisikan petasan. Korban petasan yang selamat pun tak jarang harus hidup cacat karena tangan harus diamputasi. Korban petasan tak hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa. Termasuk pekerja dan pemilik pabrik petasan.

Pada Februari 2016 sebuah pabrik petasan di Desa Lohbener, Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat meledak, dan menewaskan satu orang. Kejadian serupa pernah terjadi di Sukabumi, Jawa Barat.

Selain kembang api, meniup terompet juga merupakan hal yang sia-sia. Dibeli dan digunakan sekali, kemudian dibuang. Bukankah terompet juga merupakan simbol keagamaan Yahudi? Sebagai seorang muslim, tentu kita tidak boleh menyerupai agama lain dalam hal keagamaan.

Uang yang digunakan untuk membeli kembang api dan terompet lebih baik digunakan untuk bersedekah membantu saudara-saudara​ kita yang tertimpa musibah. Pergantian tahun ini harusnya menjadi duka cita bagi kita karena bencana alam yang terjadi di Lombok, Palu-Donggala, serta yang terbaru di Banten-Lampung telah menewaskan saudara-saudara kita.

Lantas, apakah salah menyambut tahun baru?

Tentu tidak!

Jika,
Disambut bukan dengan ledakan kembang api terindah, melainkan disambut dengan ledakan semangat hijrah ‘tuk menjadi pribadi yang lebih shalih/shalihah.

Jika,
Disambut bukan dengan suara terompet yang saling bersahutan, melainkan disambut dengan suara lantang dalam menebar kebaikan dan mencegah keburukan.

Jika,
Mata yang ditahan tidak terpejam itu digunakan untuk bermunajat kepada Allah di sepertiga malam-Nya. Bermuhasabah merenungi segala dosa dan khilaf selama ini. Kemudian bertobat memohon ampun kepada-Nya.

Saudaraku, jadikanlah pergantian tahun 2019 ini sebagai momentum menjadi hamba allah yang lebih baik!

Semangat berproses menjadi lebih baik…!

#YukHijrah
#TahunBaruMakinTaat
#SahabatMuslimMuslimah

© Sahabat Muslim FMIPA UNJ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com