[KISS] Kajian Islam KamiS Sore: Muslim Ideal Berakhlaq Qur’ani


Tema : Muslim ideal Berakhlaq Qur’ani
Pemateri : Ustadz Syahril Sidik, S.Ag
Waktu : Kamis, 12 April 2018
Tempat : MNI

Materi:
Indikator siapa sajakah yang bisa melihatnya kemungkaran? Yaitu yang telah dipahami sama Allah. Dimana ia tidak melihat kuantitas tetapi kualitas.
Kenapa? Karena ketika seseorang telah dipahamkan olehNya seperti ibadah sholat yang baik maka mampu mencegah dari hal yang mungkar dan tenang hatinya.

Belum Tanya sholat ibadah dzikir yang mendekatkan diri kita pada Allah jika masih miliki penyakit hati (Ujub, Takabur, ‘ain, dll). Lalu bagaimana supaya terhindar? Perbanyak dzikir dan sholat, karena itu adalah bentuk komunikasi kita kepada Allah.
Jika masih diseling-selingi, misal ketika kita menganggu ibadah orang lain pasti akan timbul rasa marah orang tersebut kepada kita sama hal nya kita kepada Allah. Maka Berikan adab, akhlaq dan sopan santun yang baik pada orang lain. Karena jika masih saja mengganggu orang lain maka impact ibadah dzikir yang telah kita lakukan kepada Allah akan kurang dapat kita rasakan nikmatnya. Perbaiki lah sholat/ibadah yang akan tingkatkan akhlaq dan iman kita. Dimana akan menyelaraskan antara tangan dan hati (yang diperbuat)kita.

Imam Al-Ghazali pernah berkata “Akhlaq adalah bentuk jamak dari Khaliq yang berarti hubungan Allah dengan makhluk, dan makhluk dengan makhluk. Serta Khuluq yang berarti sifat dijiwa yang ada tertanam pada manusia dan terdorong tuk melakukannya.

Kemudian, akhlaq yang baik (mahmudah) akan menghindarkan mudharat, yaitu tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang dilema dihatinya tanpa pertimbangan mendalam (Akhlaqul Karimah). Misal ada uang Rp 100.000 dijalan dan tidak diketahui siapa pemiliknya maka akan dibiarkan saja, sedang yang tidak memiliki berakhlaq akan mengambil tanpa berpikir punya siapa.

Moral, etika, sopan santun ialah bentuk logika manusia. Sedang akhlaq adalah bentuk syariah Allah.

Dalam Al-Qur’an kisah tentang kafir dan akhlaq dipisahkan berbeda. Rasulullah bersabda “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq”. Dalam Islam, representasi model manusia yang terbaik dari Allah adalah Nabi dan Rasul. Dengan memberikan petunjuk padanya untuk kemudian manusia mengikuti keteladannya.

Bagaimana Allah membagi akhlaq manusia?

1) Allah
Meyakini seluruh yang ada didalam Al-Qur’an, menerima dan mengamalkan firman Allah di Al-Qur’an, menerima takdir dan tidak mengeluh.
Dari Anas pernah berkata “Sungguh saya berkhidmat bersama Rasul selama 10 tahun bersamnya tapi tidak sekalipun keluarkan ‘ah’ dari mulutnya, jika ada hanya kepada Allah”.

2) Makhluk manusia
a. Orang lain
– Keluarga
– Masyakarat
b. Diri sendiri
Pencerdasan emosi bisa dilakukan dengan mengikuti hati nurani kita.
Ali bin Abi Thalib berkata “Sungguh yang kutakutkan manusia menjauhi fitrahnya, bukan menjauhi bom”. Dimana maksudnya ialah ketika manusia mengambil keputusan keputusan kembali ke buku-buku yang merupakan hasil ciptaan manusia, bukan kembali kepada Allah. Karena tidak sempurna iman seseorang jika ia belum mencintai saudaranya sendiri seperti ia mencintai dirinya sendiri.
Seseorang yang memiliki akhlaq yang baik akan berprasangka baik/menihilkan prasangka (buruk) ke orang lain. Contohnya bisa kita lakukan ketika mau tidur dengan memaafkan teman kita. Sedang orang yang miliki akhlaq buruk bagai membawa buah busuk yang sedap.
Sholat/ibadah ialah bentuk tarbiyah karakter, tempat mencharge. Maka tergugah lah untuk belajar supaya Akhlaqul Karimah.
3) Selain manusia
Cara potong hewan, menginjak rumput, tumbuhan jika kamu baik atau memelihara nya itu adalah sedekah.
Ketika seorang lelaki berjalan dalam sebuah perjalanan dia merasa sangat kehausan lalu dia mendapati sebuah sumur. Dia turun ke sumur itu lalu minum dan setelah itu keluar. Saat itu, tiba-tiba dia melihat seekor anjing yang menjulurkan lidahnya menjilat debu karena sangat haus. Si lelaki itu berkata, “Anjing ini sangat kehausan sebagaimana yang telah aku rasakan.” Lalu dia turun lagi ke sumur, dia memenuhi salah satu sepatunya dengan air lalu dia menggigitnya dengan mulutnya (sehingga bisa naik) dan memberikan minum kepada anjing tersebut. Kemudian Allâh Azza wa Jalla berterima kasih kepadanya (maksudnya Allâh menerima amal perbuatan orang ini) dan Allâh Azza wa Jalla mengampuni dosanya. Para shahabat Radhiyallahu anhum bertanya, “Wahai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , apakah kita akan mendapatkan pahala dalam (pemeliharaan) binatang ternak ?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, pada (pemeliharaan terhadap) setiap yang bernyawa ada pahala.”

Kita diciptakan tidak hanya untuk merasakan kita sendiri, tapi bisa merasakan orang lain, karena sebaik-baik akhlaq ialah mampu merasakan perasaan orang lain. Disini kita bisa meningkatkan pribadi dan mengurangi kemaksiatan.

Q: bagaimana cara memberitahu kepada orangtua dengan cara yang baik?
Ada: Hidayah tidak bisa kita paksakan, tapi via dakwah bil hal. Do’akan, cari Fadhilah amal untuk orangtua.

Q: bagaiman cara supaya akhlaq kita stabil dengan membaur tetapi tidak melebur, tidak menyinggung hati dan mampu membawa mereka ke jalan yang baik?
A: berkumpul bersama orang-orang shaleh bisa jadi pengingat, lingkungan sangat berpengaruh. Allah menyukai kelembutan dalam segala urusan, dakwah pun juga.

#Semogabermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com