[KISS] Kajian Islam kamiS Sore: Bahas Tuntas Sholat Berjama’ah

Kajian Islam kamiS Sore  pada hari Kamis, 22 Maret 2018 dimulai sekitar pukul 16.00 WIB. Tema yang diangkat pada KISS kali ini, yaitu mengenai Bahas Tuntas Shalat Berjama’ah dibawakan oleh Ust. Dr. H. Wido Supraha. Kajian dibuka oleh MC dan dilanjutkan dengan pembacaan tilawah oleh Amir Mas’ud.

Kajian dibuka oleh sebuah hadist yang berbunyi mengenai pentingnya menegakkan shalat.

“Bahwasanya amalan yang pertama dihisab adalah shalat. Jika shalatnya baik maka amalan yang lain pun baik, jika amalan shalatnya buruk maka buruk juga amalan yang lain.”

Kemudian, Ust. Wido menjelaskan keutamaan shalat berjamaah. Dimana Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang ingin dikehendaki kebaikan oleh Allah, orang itu akan dijadikan mudah memahami ilmu yang datang sari Allah SWT.”
Yang mana kita ketahui bahwa sumber dari segala ilmu adalah Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an menegaskan bahwa shalat hendaknya dilakukan dengan berjama’ah.

Sungguh sangat utama perintah shalat berjama’ah di masjid, terutama bagi laki-laki. Sampai pernah diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh, aku pernah bertekad untuk menyuruh orang membawa kayu bakar dan menyalakannya, kemudian aku akan perintahkan orang untuk mengumandangkan adzan untuk shalat [berjama’ah] kemudian akan aku suruh salah seorang untuk mengimami orang-orang [jama’ah] yang ada lalu aku akan berangkat mencari para lelaki yang tidak ikut shalat berjama’ah itu supaya aku bisa membakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari [644] dan Muslim [651]).
Namun belum pernah ada riwayat bahwa Nabi benar-benar membakar rumah seseorang, tapi kita dapat mengambil pelajaran bahwasanya Nabi sangat tidak menyukai jika ada seorang muslim yang tidak menjalankan shalat berjama’ah.

Selain itu, perintah shalat berjama’ah bukan hanya untuk mereka yang memiliki kesempurnaan fisik, namun tidak terkecuali mereka yang memiliki kekurangan, dijelaskan dalam:
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa suatu ketika ada seorang buta yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku tidak memiliki penuntun yang selalu membimbingku untuk berangkat ke masjid.” Dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan meminta keringanan agar boleh mengerjakan shalat di rumah, maka beliau pun memberikan keringanan untuknya. Akan tetapi, ketika dia berpaling (hendak pulang) maka beliau menanyakan kepadanya, “Apakah kamu masih mendengar adzan untuk shalat [berjama’ah]?”. Dia menjawab,”Iya.” Maka Nabi pun mengatakan, “Kalau begitu penuhilah panggilan itu.” (HR. Muslim [653]).

Namun, jika memang dalam keadaan genting dan tidak memungkinkan, misalnya sedang terjadi bencana alam, baru diperbolehkan untuk shalat dirumah.

Langkah-Langkah Shalat di Masjid yang Sempurna:

  • Berwudhu dirumah
    Setelah berwudhu, memakai pakaian terbaik, dan diniatkan untuk berangkat ke masjid.
    Melangkah keluar rumah dengan berdo’a: “bismillah tawakkaltu ‘alallah laa hawlah wa laa quwwata illabillah”
    Melangkahkan kaki dengan berdo’a: “Allahummaj’al fi qalbiy nuuron, wa fii lisaniy nuuron, waj’al fii sam’iy nuuron, waj’al fi bashoriy nuuron, waj’al min kholfiy nuuron, wa min amaamiy nuuron, waj’al min fauqiy nuuron, wa min tahti nuuron, allahumma a’thiniy nuuron.”
  • Pentingnya berdoa: untuk memohon perlindungan dari Allah SWT.
    Melangkah masuk ke masjid dengan kaki kanan dan berdoa: “A’udzu billlahil ‘adzim, wa biwajhihil karim, wa sulthonihil qodim, minas syaithonir rojim, allahummaghfirli, allahummaftah liy abwaba rohmatik.”
    Berjalan dengan pelan dan tidak berlari.
  • Shalat 2 raka’at tahiyatul masjid
    Mendengarkan & menjawab adzan. Berdo’a setelah adzan.
  • Shalat sunnah qabliyah
    Shalat berjama’ah di shaf yang pertama

Kriteria memilih imam:

  • Paling baik bacaannya
  • Orang yang mukim
  • Orang yang paling tua

Sesi Pertanyaan:
Q: Bagaimana posisi makmum ketika shalat berjamaah namun imamnya dalam posisi duduk?
A: Dari peristiwa saat zaman Nabi, dapat disimpulkan bahwa imam ada untuk diikuti. Jadi jika imamnya duduk, maka makmumnya juga.
Q: Ketika berjamaah masbuk, tidak perlu menepuk, bagaimana cara mengisyaratkan ke imamnya?
A: Jika makmum sendiri, maka posisinya disebelah kanan, tidak mesti mundur kebelakang sedikit. Orang shalat bukan berarti tidak mengetahui sekitar, jadi pasti bisa mengerti. Namun bukan berarti tidka boleh menepuk pundak, hanya dikhawatirkan mengagetkan imam.
Q: Jika imam tidak sengaja buang gas saat shalat berjamaah, bagaimana?
A: Shalat imam batal, dan digantikan dengan orang yang posisinya dibelakang imam.
Q: Bolehkah membuat 2 jamaah dalam 1 masjid?
A: Jika jama’ah pertama sudah selesai, ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa tidak perlu membuat jama’ah baru, namun lebih banyak yang berpendapat bahwa lebih baik membuat jama’ah baru.
Boleh, namun lihat keadaan sekeliling pandangan mata kita, maka diperbolehkan membuat jama’ah baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com