[MUTIA] Kajian Kemuslimahan FMIPA : Karena-Nya, Ku Harus Cantik Seutuhnya

⁠⁠⁠MUTIA yang dilaksanakan pada Jum’at tanggal 21 April 2017 bertema fiqih dengan judul “Karena-Nya, Ku Harus Cantik Seutuhnya” dihadiri oleh 53 peserta, yang dibuka oleh Ajeng Mutia Sari O selaku MC yang selanjutnya dilakukan pembacaan oleh Uswah untuk menambah keberkahan dari kegiatan yang insyaaAllah dipenuhi berkah ini. Selanjutnya barulah ka Kalika Rahajeng menyampaikan materi.

Islam itu sangat luar biasa karena Islam mengajarkan diri kita dari bangun tidur sampai tidur kembali.

Perhiasaan rambut wanita:

Menyisir rambut

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum melihat mereka sekarang. (Yang pertama,) suatu kaum yang bersama mereka ada cambuk-cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk mencambuk manusia. (Yang kedua,) para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang, mereka miring lagi membuat orang lain miring. Kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan bisa mencium bau wangi surga, padahal wanginya bisa tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian’.” (HR. al-Imam Muslim no. 5547)

Ada beberapa pendapat yang memaknai kata miring dalam hadits tersebut yakni pertama ada yang menyebutkan yang dimaksud dengan miring itu adalah wanita jahiliyah yang dahulunya suka memiringkan rambutnya dan hal ini dapat terlihat jelas secara lahiriah, kedua sikapnya yang miring atau tidak baik, dan ketiga kepala mereka yang seperti punuk unta hal ini dapat dilihat ketika sesorang yang memakai hijab namun rambutnya dikondisikan dengan cara diikat namun ikatan tersebut terlalu berlebihan (tinggi dan besarnya) sehingga terlihatlah seperti punuk unta. Dalam hadits lain dikatakan:

“Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan meminta disambungkan rambutnya.” (H.R. Bukhari no. 5941, 5926 dan Muslim no.5530)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT melarang seseorang untuk menyambung atau pun meminta disambungkan rambutnya. Jadi bagi orang yang meminta dan orang yang meyambungkan rambut sesorang akan mendapatkan dosa. Selain itu, ada beberapa larangan lain bagi wanita yang berhubungan dengan rambut yang ada di kepala, yaitu wanita tidak diperbolehkan untuk menyanggul rambutnya, memakai konde atau wig yang bertujuan untuk menyambung rambut agar terlihat lebih baik dari yang lainnya atau tasyabuh. Sedangkan hukum untuk mengeritingkan rambut adalah diperbolehkan dengan syarat tidak adanya niat untuk mengubah ciptaan Allah SWT dan tasyabuh.

Namsh (mencukur alis)

Orang yang melakukan hal ini akan medapatkan balasan yang sangat berat yaitu dilaknat oleh Allah SWT atau dalam arti sebenarnya adalah dijauhkan dari rahmat Allah SWT. Hal ini tentu saja suatu hal sangat menakutkan, karena sebagai seorang manusia yang lemah dan tak punya apa-apa tentu saja tak ada hal lain yang menjadi pegangan kita selain rahmat dari Allah SWT. Hal ini dipertegas dengan hadits yang berbunyi,

“Allah melaknat orang yang menato dan wanita yang minta ditato, wanita yang menyambung rambutnya (dengan rambut palsu), yang mencukur alis dan yang minta dicukur, serta wanita yang meregangkan (mengikir) giginya untuk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Menyemir rambut

Dikisahkan dalam sebuah peristiwa pada zaman Rasulullah SAW, saat itu terdapat seseorang menghadap kepada Rasulullah SAW dan menyatakan ingin ikut berperang namun karena faktor usia beliaupun terlihat memiliki banyak uban di kepalanya. Kemudian Rasulullah SAW menyuruhnya kembali lagi ke rumah dan menyemir rambutnya agar telihat muda kembali. Oleh karena itulah menyemir ini sangat disarankan namun dalam pemilihan warnanya tidak diperkenankan untuk menggunakan warna hitam, melainkan dapat menggunakan warna lain seperti merah, coklat, atau gabungan dari dua warna yang berbeda. Adapun yang lebih baik adalah dengan menggunakan bahan sejenis pacar yang menghasilkan warna coklat kehitaman. Hal ini berdasarkan hadits yang berbunyi

“Ubahlah uban ini dan jauhilah warna hitam.” (HR. Muslim no. 5476)

Mencukur rambut ketiak dan kemaluan

Di dalam suatu hadits dikatakan bahwa “Ada lima macam fitrah, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari no. 5891 dan Muslim no. 258). Adapun dalam hadits lain berbunyi “Ada sepuluh macam fitrah, yaitu memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.” Mus’ab (perawi hadis) berkata, “Aku lupa yang kesepuluh, aku merasa yang kesepuluh adalah berkumur.” (HR. Muslim 261, Abu Daud 52, dan yang lainnya).

Terdapat dua perbedaan yang harus diperhatikan ketika akan membersihkan rambut di daerah ketiak dan kemaluan, yaitu jika membersihkan di daerah kemaluan maka ditipiskan dengan cara dicukur sedangkan untuk daerah ketiak adalah dicabut sampai ke akar rabutnya. Namun setiap orang memiliki kekuatan yang berbeda sehingga diperbolehkan untuk mencukur rambut di ketiak. Hal ini disunahkan dilakukan sekali dalam jangka waktu empat puluh hari, namun hal ini juga disesuaikan dengan kondisi diri masing- masing karena setiap orang memiliki aktivitas hormon yang berbeda- beda.

Parfum

“Wewangian seorang laki-laki adalah yang tidak jelas warnanya tapi tampak bau harumnya. Sedangkan wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya tidak begitu nampak.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no.7564; hadits hasan. Lihat: Fiqh Sunnah lin Nisa’, hlm. 387)

Seperti yang dijelaskan dalam hadits diatas, terdapat dua perbedaan dari karakteristik yang dimiliki pada perempuan dan laki- laki, dimana pada parfum perempuan tidak memiliki wangi yang terlalu harum namun memiliki warna. Sedangkan pada parfum laki-laki memiliki wangi yang sangat harum namun tidak memiliki warna.

Bagaimana dengan penggunaan parfum alkohol? Hal ini diperbolehkan namun akan lebih baik jika dihindari. Karena dalam parfum yang memiliki label alkohol bukanlah alkohol yang berasal dari khamr namun merupakan sejenis campuran (etanol) yang sifatnya tidak memabukkan. Sedangkan yang diharamkan merupakan sesuatu hal yang memabukan, seperti yang dijelaskan dalam hadist yang berbunyi “Setiap yang memabukkan adalah khomr. Setiap yang memabukkan pastilah haram.” Adapun sebab pengharaman ini dapat disimak dalam perkataan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsamin berikut: “Khomr diharamkan karena illah (sebab pelarangan) yang ada di dalamnya yaitu karena memabukkan. Jika illah tersebut hilang, maka pengharamannya pun hilang. Karena sesuai kaedah “al hukmu yaduuru ma’a illatihi wujudan wa ‘adaman (hukum itu ada dilihat dari ada atau tidak adanya illah)”. Illah dalam pengharaman khomr adalah memabukkan dan illah ini berasal dari Al Qur ’an, As Sunnah dan ijma’ (kesepakatan ulama kaum muslimin).”Jadi sudah jelas jika penggunaan parfum alkohol tidak haram, namun jika terdapat keraguaan sebaiknya pengunaan parfum alkohol dihindari.

Pada wanita sangat dilarang menggunakan parfum saat di luar rumah karena wangi yang berasal dari parfum tersebut dapat mengundang syahwat dari orang- orang yang menciumnya dan hal ini akan sangat berbahaya jika orang- orang tersebut adalah laki- laki ajnabi yaitu laki- laki yang asing. Bahkan dalam salah satu hadits, Rasulullah SAW bersabda,

“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i no. 5129, Abu Daud no. 4173, Tirmidzi no. 2786 dan Ahmad 4: 414)

Selain itu, perlu kita ketahui jika kaum laki- laki sangat menyukai wangi- wangian dan memiliki daya imajinatif yang sangat tinggi. Oleh karena itu, sebagai seorang perempuan kita juga diwajibkan untuk menjaga agar suatu kemudharatan tidak terjadi.

Namun penggunakan parfum bagi wanita sangat dianjurkan, dengan syarat tujuaan penggunaannya dilakukan untuk menyenangkan suami dan keluarga. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam hadits yang berbunyi “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251).

Kontak Lensa

Hukum penggunaan kontak lensa tergantung pada tujuan dari penggunaan kontak lensa itu sendiri. Jika penggunaanya untuk terlihat agar lebih cantik maka penggunaannya sangat dilarang, sedangkan apabila penggunaanya dilakukan untuk pengobatan maka diperbolehkan dengan syarat menggunakan lensa yang bening (tidak mengandung warna) hal ini tentu saja dilakukan untuk dapat menjaga diri dari potensi yang tidak baik. Dalam suatu hadits dijelaskan bahwa,

“Jangan kalian berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih- lebihan” (Al-An’am:141) dan “Barangsiapa mengenakan pakaian (libas) syuhrah di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR. Abu Daud II/172; Ibnu Majah II/278-279)

Operasi Kecantikan

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Semoga Allah melaknat orang yang mentato, yang minta ditato, yang mencabut alis, yang minta dikerok alis, yang merenggangkan gigi, untuk memperindah penampilan, yang mengubah ciptaan Allah.” Jadi dalam hadits tersebut jelas bahwa hukum dari pada operasi kecantikan bergantung pada tujuan dilakukannya operasi tersebut. Jika dilakukan karena hanya ingin terlihat cantik dan sempurna maka dilarang dan jika dilakukan karena suatu penyakit maka diperbolehkan.
As-Syaukani menjelaskan, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘kecuali karena penyakit’ dzahir maksudnya bahwa keharaman yang disebutkan,yaitu jika dilakukan untuk tujuan memperindah penampilan, bukan untuk menghilangkan penyakit atau cacat, karena semacam ini tidak haram.” Seperti yang dikisahkan dalam sebuah kisah dimana salah satu sahabat hidungnya patah ketika sedang berperang kemudian Rasulullah SAW mempersilahkan menggantinya dengan emas.

Menggunakan celak dan Make-up.

“…dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka …”. (QS An-Nuur 31)

Menurut pendapat para ulama berdasarkan Qur’an dan sunnah, penggunaan celak dan make-up diperbolehkan selama diperuntukkan bagi suaminya, saudara atau mahramnya serta tidak berlebihan dan tidak membahayakan kesehatannya. Namun akan menjadi tidak diperbolehkan jika pemakaiannya memiliki tujuan lain seperti untuk menjadikan diri agar lebih cantik dari yang lainnya sehingga menimbulkan kemudharatan.


Selanjutnya dilakukan sesi tanya jawab dengan tiga petenyaaan yaitu:

  1. (Uswah) Bagaimana hukum memakai kuteks pada kuku?
  2. (Esti Komariah) Bagaimana dalam penggunaan vitamin rambut dan mencukur rambut kaki?
  3. (Syifa) Bagaimana jika berhias merupakan tuntutan dari perkerjaan, orangtua (terutama ibu) dan suami?

Ketiga pertanyaan ini pun secara langsung dijawab oleh ka Kalika selaku pemateri, pertama pada bahan yang berada di dalam kuteks terdapat suatu subtansi yang dapat menghalangi air wudhu, sehingga lebih baik jika kuteks ini tidak digunakan. Adapun bahan yang dapat dipergunakan adalah inai karena di dalam inai tidak terdapat subtansi kimia melainnkan hanya zat perwarna alami saja sehingga tidak enghalangi air wudhu. Kedua,jika vitamin rambut digunakan dengan tujuan pengobatan tentu saja boleh digunakan. Namun jika terdapat maksud lain maka senbaiknya tidak digunakan. Sedangkan hukum dalam mencukur rambut kaki saya lebih memilih pendapa yang memperbolehkannya, namun jangan sampai dalam melakukannya terjadi kemudharatan terhap kesehatan diri dan akan lebih baik jika dilakukan sewajarnya saja. Ketiga, dalam menjawab pertanyaan ini tentu saja kita selalu berdo’a agar mendapatkan pasangan yang mengerti Islam secara kaffah, karena apabila mengerti maka tidak mungkin seorang ibu dan suami menyuruh hal demikian kecuali jika berhiasnya dilakukan di rumah dengan tujuan menyenangkan hati suami dan keluarga. Adapun jika diluar rumah walaupun tidak berhias, namun seorang muslim dan muslimah diwajibkan untuk berpenampilan baik, bersih dan rapih.

Hikmah yang dapat diambil dalam MUTIA dengan judul “Karena-Nya, Ku Harus Cantik Seutuhnya” adalah Sesungguhnya kita telah tertipu dengan definisi seorang wanita yang cantik yang memiliki pengertian badannya ramping, kulitnya putih, dan rambutnya berkilau. Namun pada hakikannya kecantikan seorang wanita terletak pada hati yang lurus, tutur kata yang sopan dan akhlak yang baik.

Selanjutnya dilakukan pemberian hadiah kepada tiga orang penanya dan pemberian bingkisan kepada pemateri oleh Kak Lifa selaku kepala departemen keputrian MUA. MUTIA pun ditutup oleh MC dengan pembacaan hamdalah, istighfar dan do’a penutup majelis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com