[MUTIA] Kajian Kemuslimahan FMIPA : Al- Khansa, Ibunda para Syuhada

               MUTIA yang dilaksanakan pada hari Jum’at, 7 April 2017, bertemakan Shirah dengan judul “Al- Khansa, Ibunda para Syuhada” telah dihadiri oleh 38 peserta. Acara dibuka oleh Aninda Adhiguna selaku MC dan dilanjutkan dengan Al- Qur’an oleh Ajeng Mutia Sari O. untuk menambah keberkahan pada kegiatan ini. Selanjutnya barulah Kak Afifah Janan, S.Si. menyampaikan materi.

               Al-Khansa adalah seorang penyair dengan nama asli Tumadhar binti Amru, di antara kalangan yang kaya raya dan dimuliakan di antara semua Bani di Arab, yakni Bani Mudhar. Ibunda Al- Khansa lahir saat zaman jahiliyah berlangsung di Arab. Walaupun ibunda Al-Khansa lahir pada masa jahiliyah dan belum mengenal Islam, namun beliau tetap memegang teguh prinsip yang menjauhkan beliau dari kejahiliyahan.

               Dikisahkan Al-Khansa memiliki dua saudara laki- laki yang sangat dicintainya, yakni Shakhr dan Mua’wwiyah. Kedua saudaranya adalah laki- laki yang luar biasa dimana Mu’awwiyah merupakan seseorang yang pemberani, sedangkan Shakhr, selain pemberani ia juga melupakan seseorang yang kaya Raya, hal ini dapat di lihat ketika ibunda Al-Khansa sedang tertimpa permasalahan rumah tangga karena bersuamikan orang yang sangat boros, ia ditolong oleh Shakhr dengan diberikan setengah harta benda milik Shakhr kepadanya. Namun keduanya meninggalkan Al-Khansa, keduanya meninggal dalam peperangan namun tidak dalam keadaan syahid. Karena keduanya berdiri di barisan musuh Rasulullah SAW. Mengetahui kedua saudara laki- laki yang sangat dicintainya meninggal, Al-Khansa pun sedih. Dendam terhadap Islam sampai ia berguling-guling diatas pasir dan menampar-nampar pipinya sendiri. Namun atas izin Allah SWT, Al-Khansa dihujani hatinya dengan iman. Hingga pada akhirnya beliau dan beberapa orang datang berbondong- bondong kepada Rasulullah SAW, untuk memeluk agama Islam. Dari sinilah awal permulaan bagaimana keimanan Al-Khansa tumbuh dan terus tumbuh.

               Pada sebuah riwayat lain, sahabat Adi bin Hatim dan saudarinya Safanah binti Hatim dating ke Madinah dan menghadap Rasulullah SAW. Adi berkata,”Ya Rasulullah SAW, dalam golongan kami adakah orang yang paling pandai dalam bersyair, orang yang paling bermurah hati dan orang yang paling pandai berkuda.” Mendengar hal itu, Rasulullah SAW meminta Adi menyebutkan beberapa. Namun Rasulullah SAW menukas jawaban Adi dan bersabda, “apa yang telah engkau katakan itu salah wahai Adi bin Hatim. Orang yang pandai bersyair adalah Al- Khansa binti Amru dan orang yang paling murah hati adalah Muhammad SAW serta orang yang pandai berkuda adalah Ali bin Abi Thalib.” Dikisahkan juga bahwa Rasulullah SAW sangat menyukai syair yang dibuat Al-Khansa bahkan beliau pernah meminta Al-Khansa untuk mengulangi bacaan syairnya yang mengagumkan. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa Ibunda Al- Khansa merupakan seorang penyair yang terkemuka.

               Setelah itu, Al-Khansa pun tetap menangis ketika teringat kedua saudara yang dicintainya sudah meninggalkannya. Hingga dibawah matanya terdapat lengkungan hitam yang muncul karena seringnya ia menangis. Sampai pada suatu saat Umar bin Khattab yang melihatnya pun bertanya, “mengapa engkau menangis Khansa?” Ia pun menjawab, “Aku menangisi kedua kakak ku.” Umar pun menegur Khansa karena mereka berdua meninggal dalam keadaan kafir. “Justru itulah yang membuatku kecewa dan sedih lagi. Dulu aku menangisi keduanya karena kehidupannya, dan sekarang karena aku mengetahui bahwa mereka adalah ahli neraka.” Karena pengalaman dan keimanan yang dimiliki Al- Khansa, kemudian ia bertekad untuk mendidik anak- anaknya kelak menjadi ahli surga.

               Dikisahkan bahwa pada masa peperangan, yaitu perang Qodisyiah. Keempat anak memiliki keinginan besar untuk pergi ke medan perang, namun tak ada yang menjaga ibunya. Satu sama lain saling menunjuk untuk tinggal bersama ibunya. Pertengkaran itupun terdengar oleh Al- Khansa dan langsung mengumpulkan anak-anak nya.

“Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan dan berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah dan Rasulullah SAW, berangkatlah kalian dengan hati yang senang dan majulah ke barisan paling depan serta menyeranglah ke inti peperangan.”

               Dengan ridha seorang ibu yang begitu ikhlaslah, keempat anak Al-Khansa pergi dengan penuh semangat untuk melawan musuh-musuh Islam. Bahkan, ketika anak pertama menjelang kematian syahidnya tetap menyemangati saudara-saudara yang lainya untuk terus melawan para musuh. Mendengar satu persatu anaknya mati syahid, Al- Khansa pun tetap tabah dan bersabar. Sampai pada akhirnya ketika ia mendengar keempat anaknya meninggal di medan perang perang, barulah ia menangis, namun bukan karena kesedihan yang sedang dirasakan olehnya melainkan kebahagian dan rasa syukur karena anaknya sudah menuju kepada kehidupan yang lebih abadi. Ibunda Al- Khansa pun berdo’a agar ia cepat dipertemukan oleh keempat anaknya di surga-Nya kelak dan tak lama setelah kejadian itupun akhirnya Allah SWT mengabulkan permintaan Ibunda Al-Khansa untuk bertemu dengan keempat anaknya, ia meninggal dengan keimanan yang melekat pada dirinya.

               Hikmah yang dapat diambil adalah ketika kita mendapatkan keimanan, kita wajib memegang keimanan itu erat-erat dan menerapkannya dalam kehidupan, termasuk dalam mendidik anak. Karena sesungguhnya seorang perempuan merupakan penopang peradaban yang akan menentukan bagaimana peradaban akan berlangsung pada suatu masa. Masyarakat beriman dipimpin oleh orang bertakwa dan masyarakat yang tidak beriman dipimpin oleh orang yang kuat bukan bertakwa. Tergantung pada diri kitalah, apakah kita termasuk pada golongan yang bertakwa atau tidak.

               Selanjutnya dibagikan penyerahan bingkisan kepada pemateri dan hadiah bagi tiga orang pertama yang dating ke MUTIA oleh kak Lifa selaku kepala departemen kemuslimahan MUA. Kemudia acara MUTIA ditutup oleh MC dengan bersama- sama mengucapkan hamdalah, istighfar dan disempurnakan dengan do’a penutup majelis.

2 tanggapan untuk “[MUTIA] Kajian Kemuslimahan FMIPA : Al- Khansa, Ibunda para Syuhada

  • 17 April 2017 pada 10:31
    Permalink

    Masih ada yg typo itu.. Monggo disunting lagi..

    Paragraf pertama..

    Balas
    • 18 April 2017 pada 22:32
      Permalink

      Makasih Akhi atas koreksinya… sudah dicoba untuk diperbaiki, kira-kira sudah benar dan baik belum?

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com