[MUTIA] Edisi shirah : ‘Aisyah binti Abu Bakar, Wanita Agung Nan Abadi

Jakarta (31/03/2017), Masjid Ulul Albaab mengadakan MUTIA edisi shirah dengan tema : ‘Aisyah binti Abu Bakar, Wanita Agung Nan Abadi.

MUTIA kali ini mengambil salah satu bagian shirah yang menceritakan tentang seorang ‘Aisya RA, seorang ummul mukminin yang sangat dikagumi hingga hari ini oleh para muslimin dan muslimat. Dibawakan oleh Kak Dwi Fitriyani (Matematika 2011) dan diselenggarakan di Gedung Dewi Sartika Lt. 7 Ruang 707, acara MUTIA kali ini dihadiri oleh sebanyak …. peserta. Kajian dibuka dengan pembacaan tilawah oleh Salma Madaniyyah (Pend. Biologi 2016). Selanjutnya Kak Fitri memulai pembahasannya tentang ‘Aisyah RA.

Ibunda ‘Aisyah masuk islam di urutan ke 19, lahir pada sekitar tahun ke 4 dan ke 5 kenabian Rasulullah SAW. Ibunda ‘Aisyah adalah istri ke 3 Rasulullah SAW yang dinikahi secara akad pada usia 6 tahun, mulai hidup berumah tangga pada usia 9 tahun dan mulai digauli pada usia 18 tahun. Beliau adalah satu – satunya istri Rasul yang dinikahi saat masih gadis. Rasulullah menikahi ‘Aisyah RA karena Allah, yang pesannya disampaikan lewat mimpi dimana malaikat Jibril dan seorang perempuan bercadar hadir didalamnya. Rasulullah pun diminta oleh Jibril untuk membuka cadar wanita itu yang ternyata adalah ‘Aisyah RA. Kemudian Jibril berkata “Wahai Muhammad, inilah istrimu kelak”.

Jika sedang romantis, Rasulullah memanggil ‘Aisyah RA dengan sebutan “Khumayra” yang merujuk pada wajah ‘Aisyah RA yang putih kemerahan bak delima. ‘Aisyah RA pun memanggil Rasulullah dengan sebutan “Abdullah” yang berarti hamba Allah.

Ibunda ‘Aisyah bila sedang marah kepada Rasulullah, tetap berlaku sopan, namun akan memanggil Rasul dengan namanya, yaitu “Muhammad”.

Keistimewaan Ibunda ‘Aisyah RA :

  • Cantik, pipinya kemerahan
  • Pintar dan cerdas
  • Penghafal Hadits
  • Pencemburu
  • Satu-satunya istri Rasulullah yang dinikahi saat masih gadis.

Kisah cinta ‘Aisyah RA dan Rasulullah pernah mendapat ujian seperti kisah yang tertulis pada Asbabun Nuzul QS. An – Nuur : 19. Turunnya wahyu ini untuk membersihkan nama Ibunda ‘Aisyah RA.

Ibrah yang didapatkan dari QS. An – Nuur : 11 adalah bilamana ikhwan dan akhwat berjalan bersama, maka dahulukanlah ikhwan agar ikhwan berada di depan untuk menjaga pikiran ikhwan agar tidak digoda syaithan.

‘Aisyah RA adalah satu-satunya istri Rasulullah yang mendapat salam dari Jibril.

Ibunda ‘Aisyah RA ditempatkan di urutan ke 5 oleh para ulama hadits. Hal ini dikarenakan ‘Aisyah RA telah merawi 2210 hadits, diantaranya sebanyak 279 hadits adalah hadits shahih dan sebanyak 145 hadits adalah hadits muttafaq ‘alaihi.

Ibunda ‘Aisyah RA ditinggal wafat Rasulullah pada usia 18 tahun, namun tetap mensyiarkan syiar Islam terutama tentang keakhwatan. Walaupun ada seorang sahabat yang bertekad untuk menikahi ‘Aisyah RA selepas Rasulullah wafat, namun hal itu dilarang oleh Allah SWT.

Kajian MUTIA kemudian ditutup pada pukul 13.00 WIB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com