[KISS] Kajian Islam kamiS Sore : Seperti Shalatnya Rasulullah SAW

Jakarta (14/09/2017) Masjid Ulul Albaab mengadakan Kajian Islam kamiS Sore dengan tema Fiqih yang berjudul: Seperti Shalatnya Rasulullah SAW. Kajian Islam kamiS Sore dimulai pada pukul 16.00 WIB dan mengundang Ust. Wido Supraha sebagai pembicara, bertempat di Masjid Nurul Irfan. Terhitung sebanyak 99 Peserta yang menghadiri kajian kamis sore itu. Kajian dibuka dengan tilawah bersama Q.S. Al-Baqarah yang dipimpin oleh M. Fauzi Ramadhan. Selanjutnya Ustadz Wido memulai materi tentang umur yang Allah berikan sampai saat ini. Dengan masih adanya umur, Allah menginginkan kita menambah pundi-pundi amal seperti sujud, syukur, dll. Semoga tidak disia-siakan. Lalu Ust. Wido mengatakan betapa pentingnya Shalat itu karena Shalat adalah rukun islam yang kedua. Maka penting bagi kita untuk menyempurnakannya.

Rasulullah SAW pernah mengatakan (dalam H.R. Ad Daruqutni) :

(فَمَنْ أَقَامَهَافَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنِ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْهَدَمَ الدِّيْنِ . (رواه الدارقطني

Barang siapa yang menegakkan shalat (bukan sekedar melaksanakan shalat, tetapi mengerjakan shalat dengan sempurna) maka dia telah berkontrobusi positif untuk menegakkan agama Allah. Sementara barangsiapa yang meninggalkan shalat (bukan sekedar meninggalkan shalat tetapi mengerjakan shalat dengan tidak sempurna, dengan asal-asalan, meninggalkan tatacara yang benar, serta meninggalkan niat yang benar) maka dia memiliki potensi berkontribusi positif untuk menghancurkan agama Allah.

مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ الصَّلاَةُ

Shalat itu adalah kunci Surga (H.R. Ahmad)

Rasulullah SAW. mengatakan bahwa tidak disebut dengan kunci apabila tidak ada giginya. Kunci Shalat harus ada giginya. Apa yang dimaksud dengan gigi?

Yang pertama adalah Keikhlasan bahwa Shalat itu hanya untuk Allah SWT.

Sholat adalah amalan yang pertama kali dihisab oleh Allah, khususnya shalat wajib. Tidak ada jaminan bahwa Shalat wajib yang kita laksanakan adalah shalat yang terbaik, maka dari itu akan dilengkapi dengan amal nafilah dan amal sunnah yang akan menyempurnakannya. Tidak ada akhlak yang mulia kecuali berawal dari shalat yang baik.

Makna Shalat adalah Do’a. Mulai dari Takbir sampai Salam seluruhnya itu sebenarnya adalah Do’a. Filosofi dasar dari sebuah Do’a adalah orang yang berdoa khawatir permintaannya tidak dikabulkan tapi berharap betul akan dikabulkan permintaannya.

Rasulullah SAW. tidak menyukai orang yang shalatnya terengah-engah, dalam kondisi kelaparan, kondisi menahan buang air kecil/besar, kecuali semuanya telah lewat. Kualitas shalat lebih diutamakan daripada shalat itu sendiri. Rasulullah SAW. mengatakan :

لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُوْرٍ

Tidak diterima shalat kecuali dengan bersuci (H.R. Muslim dan At Tirmidzi)

 – dan bersuci yang benar adalah yang membaguskan persuciannya. Kunci dari shalat adalah Thaharah. Sebaik apapun shalat, jika thaharahnya tidak layak maka akan sia-sia. Thaharah yang baik secara umum menggunakan air/bertayamum serta memperhatikan perbedaan mencuci, mengusap, menyiram.

Sifat Shalat

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Shalatlah kalian sebagaimana melihat aku shalat (H.R. Bukhari)

Ibadah Shalat bersifat Tauqifiyah, tidak boleh direkayasa, tidak boleh ada kreatifitas (menyalahi/menyelisihi Rasulullah SAW.). Shalat bersifat Tetap (apa yang diajarkan Nabi SAW. hendaknya itu yang dilaksanakan)

Hal pertama yang perlu diperhatikan saat menegakkan shalat yaitu:

  1. Menghadap mana shalat kita (Hadapkan diri ke arah Ka’bah). Ka’bah itu bukan batu yang disembah, tetapi adalah wujud untuk mempersatukan seluruh umat manusia. Bumi ini diciptakan mulai dari titik Ka’bah, maka Ka’bah jadi titik poros bumi.
  2. Berdiri.
  3. Dekat dengan Sutrah.
    Sutrah adalah pembatas. Pilihlah tempat yang tidak banyak dilewati orang. Batas sutrah adalah sebatas tempat kita bersujud. Shalat Rasulullah SAW bukan shalat yang egosentrik, tetapi shalatnya adalah kemasyarakatan. Apa saja yang bisa dijadikan Sutrah? Bisa apapun, bisa sapi di depan/tas di depan/dinding di depan/orang di depan/pilihan terakhir adalah buat garis (niatkan untuk digunakan sebagai Sutrah), lebih baiknya itu yang tinggi (dibawah lutut sedikit). Sutrah imam = Sutrah Jama’ah.
  4. Awali dengan Niat. Niat itu ada di dalam hati. Melafadzkan niat itu bukan syarat sahnya Shalat.
  5. Shalat dibuka dengan kalimat “AllahuAkbar”. Dibaca A bukan O. (Allah bukan Olloh/Aloh/Alah). Pengucapan harus benar, ketika mengucapkannya makan harus menghadirkan jiwa. Maka akan lahir perasaan bahwa Kita yang Butuh Allah, bukan Allah yang Butuh Kita, sehingga lupakan semua yang terjadi.
  6. Mengangkat tangan ketika takbir (mengucap Allahu Akbar) dan kemudian meletakkan tangan kanan diatas tangan kirinya. Mengangkat tangan sejajar dengan telinga/bahu. Tangan harus menghadap ke arah Kiblat. Kemudian letakkan di Shadrihi (bagian depan menurut bahasa) tidak mesti diatas dada, tidak mesti disebelah kiri perut. Secara umum, diletakkan di bagian depan.
  7. Pandangan mata kemudian dilemparkan ke bawah (bagian tempat sujud). Melihat dalam asbab untuk memastikan itu boleh, selama ada tujuannya.
  8. Kemudian Membaca Bacaan pembukan (Doa Iftitah). Doa pembuka merupakan bacaan sunnah, boleh tidak dibaca. Di dalam doa pembuka itu memuji Allah, memuliakan dan mengangkat Allah. Setelah itu membaca Ta’awudz karena akan membaca satu Rukun Shalat yaitu membaca Al-Fatihah. Apabila merasa ngantuk, dll (godaan syaitan) maka boleh meludah ke arah kiri sebanyak 3x (meludah kias), lalu membaca ta’awudz kemudian tarik nafas, lalu membaca basmalah dan tarik nafas lagi, baru setelah itu dilanjutkan 6 ayat berikutnya. Setiap ayat Surat Al-Fatihah dibaca dengan menarik nafas, membacanya harus terputus-putus setiap 1 ayat (beri waktu sejenak). Karena itu salah satu sarana berkomunikasi dengan Allah. Setelah membaca Al Fatihah maka bacalah “Aamiin” artinya Kabulkanlah. Kemudian boleh langsung Ruku’, tapi sebaiknya memanjangkan shalat dengan membaca surah/ayat Allah SWT. Sesudah membaca surah/ayat panjang/pendek, adabnya adalah diam sejenak yang merupakan bagian dari sunnah (dinikmati dan ambil nafas). Setelah itu barulah Takbir untuk kemudian Ruku’

Kemudian Ust. Wido mengakhiri materi sampai Ruku’ dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Dan Kajian Islam kamiS Sore dengan judul “Seperti Shalatnya Rasulullah SAW” ditutup pada pukul 17.47 WIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com