Kajian Islam Selasa Sore : Sudah Benarkah Cara Bersuci Kita?

Jakarta, (Selasa, 11 April 2017) diadakan Kajian Islam Selasa Sore dengan judul: Sudah Benarkah Cara Bersuci Kita?

Kajian Islam Selasa Sore ini mengundang Ust. Wido Supraha dari MUI Pusat sebagai pembicara, yang bertempat di Masjid Nurul Irfan.

Ust. Wido Supraha memulai materi dengan pembahasan :

“Allah SWT menyukai orang yang mensucikan diri dari berbagai dosanya dengan taubat, dan membersihkan jasadnya dari ragam kotoran, hadats dan najis”.

Dalam Kitab Al-Wajiz, tentang thaharah:

Secara Bahasa, “thaharah” berarti bersihnya atau sucinya sesuatu dari hadats.
Secara Istilah, “thaharah” berarti terangkatnya hadats dan bersihnya badan dari najis.

Yang membersihkan ialah air. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Furqan [25] ayat 48, yang artinya “Dan kami turunkan dari langit air yang membersihkan”. Segala sesuatu yang turun dari langit dan keluar daripada bumi itu air yang mensucikan. Rasulullah SAW juga pernah mengatakan “Laut itu suci airnya dan halal seluruh bangkainya, air sumur itu bersih dan tidak ada yang dapat mensucikannya”. Asal segala sesuatu suci, kecuali ada sesuatu yang membatalkan kesuciannya itu.

Adapun macam-macam najis dalam kitab Al-Wajiz meliputi :

  1. Air seni anak adam
  2. Kotoran anak adam
  3. Air Madzi (air yang berwarna putih yang keluar dari seseorang yang memiliki syahwat)
  4. Air Wadi (air bening yang keluar setelah membuang air seni)
  5. Darah haid
  6. Liurnya anjing
  7. Bangkai (kecuali bangkai ikan dan belalang, juga gumpalan darah berupa hati/empedu)

“Thaharah” sendiri dapat diartikan membersihkan diri dari segala sesuatu bahkan yang tidak terlihat, ucapan, penglihatan dan lain-lain. Mengenai tempat bersuci (toilet), hendaklah membaca doa ketika ingin memasukinya dan keluar darinya. Termasuk dalam thaharah ialah berwudhu.

“Tidak diterima sebuah solat yang tidak diawali dengan berwudhu”.

Ada 2 jenis thaharah :

  1. Thaharah dengan air (berwudhu)
  2. Thaharah tidak debu tanah

Syarat wudhu :

  1. Niat
  2. Diawali dengan basmalah
  3. Berurutan

Yang wajib dalam berwudhu :

  1. Mencuci wajah sampai batas tumbuhnya rambut, termasuk berkumur-kumur dan Istinsyāq (menghirup air ke dalam hidung)
  2. Mencuci tangan sampai siku
  3. Menyapu kepala sampai telinga
  4. Mencuci kaki sampai mata kaki

Yang membatalkan wudhu :

  1. Yang keluar dari depan dan belakang
  2. Tertidur sangat pulas
  3. Makan daging unta
  4. Memegang kemaluan dengan syahwat

Hendaklah seorang muslim itu berwudhu tidak berlebihan dalam menggunakan air (isyrāf):

“Wudhu yang tetap menjaga kelestarian alam”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com