Kajian Islam kamiS Sore : Sudah Sempurnakah Bacaan Kita?

Download Materi : Wido Supraha – KISS – UNJ 09032017

Jakarta, (09/03/2017) Masjid Ulul Albaab mengadakan Kajian Islam kamiS Sore dengan tema: Sudah Sempurnakah Bacaan Kita?

Kajian Islam kamiS Sore ini mengundang Ustadz Wido Supraha sebagai pembicara, dan bertempat di Aula Daksinapati. Terhitung sebanyak 127 peserta yang menghadiri kajian sore itu.

Kajian ini dibuka dengan beberapa pengertian dari Al-Qur’an :

  1. Al Qur’an adalah هدًا (petunjuk) bagi ummat muslim
  2. Al Qur’an adalah الفرقان (pembeda) antara kebenaran dan kebatilan bagi umat islam.
  3. Al Qur’an adalah بُشْرَ (kabar gembira) bagi ummat islam yang menjadikannya sebagai pedoman.

Rasullulah SAW bersabda :

“Bacalah Al-Qur’an karena Ia akan memberikan syafaat kepada para sahabatnya.”

  • Banyak yang telah membuktikan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang mudah untuk dibaca.
  • Semakin sering seseorang membaca Al-Qur’an, maka semakin tinggi derajat orang tersebut di sisi Allah.

“Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan sepuluh kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf” (HR Tirmidzi).

Maka membaca Al-Qur’an butuh kesungguhan, jangan meremehkan 1 huruf.

  • Dalam membaca Al-Qur’an terdapat makhorijul huruf yang harus diperhatikan
  • Seluruh huruf di dalam Al-Qur’an harus diberi hak-hak nya.

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infaq-kan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.”

Karena “sebaik-baik dari kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Hal-hal yang harus dilakukan ketika membaca Al-Qur’an adalah menghormati tanda waqof (tanda berhenti)

Macam-macam waqof :

  1. Waqof lazim (م) : wajib berhenti di tanda tersebut
  2. Waqof waqfu ula (قلى) : sebaiknya berhenti (akan tetapi diizinkan untuk melanjutkan).
  3. Waqof jaiz (ج) : boleh berhenti, boleh juga melanjutkan.
  4. Waqof waslu ula (صلى) : sebaiknya lanjut
  5. Laa washol (لا) : tidak boleh berhenti
  6. Saktah (س) : Apabila pada ayat Al Qur’an terdapat tanda waqaf ini, harus berhenti dan diam sejenak tanpa mengambil nafas baru pada kata yang terdapat tanda tersebut. Saktah Sakat adalah diam sejenak biar putus & pisah suaranya dengan tanpa berganti nafas.
  7. Waqaf mu’anaqah (. ۛ.  . ۛ.) : Apabila pada ayat Al Qur’an terdapat tanda waqaf ini, harus berhenti di salah satu dari kedua kelompok titik tiga tersebut, boleh pada yang pertama atau yang kedua.

Yang lebih prioritas adalah membetulkan bacaan (tahsin) sebelum menghafal (tahfizh)

Tips & Tricks dalam menentukan waqof meskipun tidak mengerti Bahasa Arab (untuk menghindari salah arti) :

  1. Mengulang bacaan dari kalimat yang berawalan ْلا،لَْْن، atau لَمْ
  2. Mengulang bacaan dari kalimat yang berawalan وَ، ثُمَّ، atau اَوْ
  3. Mengulang bacaan dari kalimat yang berawalan فَ

Kesalahan-Kesalahan dalam membaca Al-Qur’an :

  1. Kesalahan jali berat
    • Perubahan huruf dengan huruf :
      Seharusnya الْمُسْتَقِيْم dibaca الْمٌصْتَقِيْم
    • Perubahan harakat dengan harakat seharusnya قُلْتُ dibaca قُلْتِ
    • Penambahan huruf ا،و،ي
      Seharusnya مَنْ كَانَ dibaca مَا كَانَ
    • Penghilangan tasydid
      Seharusnya عَرَّفَ dibaca عَرَفَ
    • Penambahan tasydid
      Seharusnya فَرِحَ dibaca فَرِّحَ
    • Penghilangan bacaan panjang (seharusnya dibaca 2,4 atau 5 harokat namun dibaca pendek).
      Seharusnya الْكِتَابُ dibaca الْكِتَبُ
  2. Kesalahan khofi (ringan)
    •  tidak sempurna dalam pengucapan dhommah
    • tidak sempurna dalam pengucapan fathah
    • tidak sempurna dalam pengucapan kasroh
    • menambah qolqolah
    • mengurangi bacaan “ghunnah”
    • terlalu memanjangkan bacaan panjang
    • terlalu menggetarkan ‘Ro’

Banyak orang yang salah dalam membaca Al-Qur’an karena bacaannya mengikuti nada yang sudah terbiasa dipakai, akan tetapi mengesampingkan hukum dan kaidah bacaan. Seharusnya cara membaca Al-Qur’an yang benar adalah dengan mengikuti hukum dan kaidah bacaan yang benar, baru menemukan nada/lagu bacaan yang enak.

  • Tahapan pertama yang kita lakukan adalah membaca Al-Qur’an dengan benar (sesuai hukum dan kaidah bacaan Al-Qur’an yang benar)
  • Ketika bacaan kita sudah sesuai dengan hukum dan kaidah membaca Al-Qur’an yang benar, maka kita dapat melakukan penghayatan.
  • Ketika membaca Al-Qur’an harus serius, harus memberikan masing-masing hak pada seluruh huruf.

Setelah memaparkan materi, ustadz Wido Supraha membuka sesi tanya jawab dengan satu penanya.


Pertanyaan :
Bagaimana jika ketika sedang tilawah adau suatu ayat yang terdapat tanda washal “Laa washol” (لا) sedangkan nafas kita memaksakan untuk berhenti pada batas tersebut, bagaimana baiknya yang dilakukan? Apakah berhenti lalu melanjutkan, atau berhenti tanpa mengulang ayat sebelumnya?

Jawaban :
Islam itu memudahkan dan mengerti situasi dimana kita susah dalam apapun. Maka dari itu, berhenti pada tanda “washal” tersebut tidak apa-apa, asalkan mengulang lagi dari kata yg tepat untuk diulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com