Kajian Islam kamiS Sore [KISS] featuring SALIM : You Are The Next Al Fatih

Jakarta (30/03/2017) Masjid Ulul Albaab mengadakan Kajian Islam kamiS Sore (KISS) dengan tema : You Are The Next Al Fatih

Kajian Islam kamiS Sore kali ini bekerja sama dengan Salim UNJ dan mengundang Ustadz Agus Supriyatna sebagai pembicara yang bertempat di Masjid Nurul Irfan. Terhitung sebanyak 148 Peserta yang menghadiri kajian kamis sore itu. Kajian dibuka dengan tilawah bersama yang dipimpin oleh Fauzi Ramadhan (Pendidikan Matematika 2016). Selanjutnya Ustadz Agus memulai materi dengan pembahasan tentang Muhammad Al Fatih atau dikenal juga Mehmet Al Fatih.

Mohammad Al Fatih adalah anak muda yang menaklukkan Konstatinopel

Beliau lahir pada tanggal 30 Maret 1432 Masehi dan wafat pada bulan Mei tahun 1481 dengan usia yang tidak sampai 49 tahun. Beliau menaklukkan Konstatinopel dalam usia 21 tahun.

Dalam konteks sejarah, hendaknya seorang muslim punya makna. Allah mengisahkan tentang Nabi Musa, Nabi Nuh, dan Nabi lainnya, bukan sebagai bacaan tetapi sebagai inspirasi bagaimana Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh. Tapi malangnya, seseorang terpesona dengan Nabi Nuh/Nabi Ibrahim/Nabi Musa tetapi tidak pernah mengambil hikmah dari kisah didalamnya. Memang mereka (Para Nabi) masa lalu, tetapi fungsi Islam bukan menghilangkan mereka. Buktinya adalah Al-Qur’an telah menyebut Nabi Adam, Nuh, Khidir, dan menyebut nama Nabi yang tidak ada di pelajaran sejarah. Maka dari itu kita jadi mengetahui inspirasi apa yang kita dapat dari Muhammad Al-Fatih, yaitu:

Muhammad Al-Fatih adalah titisan dari orang-orang Islam. Keturunan dalam orang-orang hebat sudah mengalir di dalam tubuh Muhammad Al-Fatih. Oleh karena itu, sejarah selalu mencatat orang-orang yang bisa menjadi Pengubah itu adalah orang-orang yang punya take record nasab-nasab yang benar. Nasab terbaik menurut Umar Bin Khattab adalah kesholehan, bukan keningratan.

Ukuran baju bagus, MC bagus, ustadz bagus tidak menjamin kesholehan. Ukuran kesholehan itu dijabarkan disebut Muhammad Al-Fatih. Standar nasab yang mulia bukan soal kerajaan bukan bangsawan, tetapi dari faktor kesholehan. Seperti Nabi Muhammad SAW nasabnya dari Nabi Ismail AS yang kesholehannya sudah tidak diragukan lagi. Muhammad Al-Fatih juga meraih kesholehan itu yaitu nasab yang baik yang betul-betul tingkat taqarrub kepada Allah dan keyakinannya kepada Allah sangatlah besar. Sebagai buktinya, Muhammad Al-Fatih sejak usia akil baligh adalah anak yang tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktu dan tidak pernah meninggalkan tahajud sampai beliau wafat.

Ukuran seseorang memiliki nasab yang mulia adalah sholat. Orang-orang yang sholat itu adalah orang-orang yang punya rasa takut yang besar pada Allah SWT dan rasa takut ini yang berjuang adalah kalimat Al-Ridho. Seperti pada surah Al-Bayyinah ayat 8 …..Rhodiyallahu ‘anhum wa radhuu ‘an-h, dzaalika liman khosyiya robbah

Jika anda ingin terinspirasi dari seorang Al-Fatih adalah tunjukkanlah rasa takut itu kepada Allah dan rasa takut itu tumbuh dari sholat.

Bedanya Al-Fath dengan An-Nasr

Perbedaan bukan pada artinya. Al-Fath dan An-Nasr artinya sama, yaitu Kemenangan. Namun kemenangannya berbeda pada objeknya antara Al-Fath dengan An-Nasr.

  • Al-Fath itu makna sebenarnya adalah kemenangan yang disertai dengan perolehan kekuasaan. Jadi Muhammad A-Fatih diberi nama oleh ayahnya dengan makna semacam itu. Ketika pertama kali dilantik menjadi khalifah pengganti ayahnya, misi beliau adalah Menaklukkan Konstatinopel yang sudah 11 abad dipegang oleh Romawi.
  • An-Nasr adalah kemenangan dari Allah tetapi tidak disertai perolehan kekuasaan. Dia menang disisi Allah SWT tetapi tidak berkuasa. Seperti pada perang Uhud.

Muhammad Al-Fatih betul-betul melakukan upgrading kalimat, kesabaran dan buah rasa takutnya kepada Allah :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”(Q.S At-Tin :4)

Al-Fatih menguasai 7 bahasa, salah satunya adalah bahasa Ibrani. Karena bahasa ibrani adalah bahasa yang sering digunakan oleh kebanyakan orang-orang Yahudi, Romawi, dan Rusia.

Al-Fatih profesional dalam bidang ilmu dan syariat.

Kreatifitas seorang Al Fatih adalah beliau belajar sejarah perang orang-orang hebat lalu dimodifikasi oleh otaknya.

Pribadi Al Fatih yang pertama kali adalah sholatnya, yang kedua adalah meng-upgrading dirinya, yang ketiga Al Fatih adalah orang yang disebut didalam Al-Qur’an sebagai orang yang mau belajar tentang dirinya (benar-benar mengerti tentang kehidupan)

Orang-orang yang melahirkan 3 pokok akhlak besar:

  1. Orang yang punya jiwa tenang.
  2. Orang-orang yang berapi-api semangatnya.
  3. Orang-orang yang optimis.

Kajian pembahasan tentang Muhammad Al-Fatih kemudian ditutup dengan bacaan Q.S. Al- Fath.
Dan Kajian Islam kamiS Sore ditutup pada pukul 17.40 WIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com