Kajian Islam kamiS Sore : Jujur, Penting Ga Sih?

Jakarta (20/04/2017) Masjid Ulul Albaab mengadakan Kajian Islam kamiS Sore dengan judul: Jujur, Penting Ga Sih? Kajian Islam kamiS Sore kali ini mengundang Kak Syahril Sidik sebagai pembicara, bertempat di Masjid Nurul Irfan. Terhitung sebanyak 120 Peserta yang menghadiri kajian kamis sore itu. Kajian dibuka dengan tilawah bersama yang dipimpin oleh Fauzi Ramadhan (Pendidikan Matematika 2016).

               Selanjutnya Kak Syahril memulai materi dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Bersyukur atas kenikmatan yang Allah berikan seperti kenikmatan dapat merasakan bangku kuliah, memiliki sahabat yang salih dan kenikmatan mendapat kasih sayang dari orang tua kita serta nikmat lain yang tidak terhitung.

Jujur adalah karakter yang diperintahkan Allah untuk dimiliki oleh orang-orang yang beriman.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: Ayat 119)

Allah membersamai sifat shiddiq di sisi perintah bertaqwa kepada Allah, ini menegaskan bahwa karakter tersebut penting bagi seorang mukmin. Seorang mukmin mungkin bisa marah, kadang tak mudah mengeluarkan harta untuk bersedekah atau sesekali malas menuntut ilmu, itu memungkinkan. Tapi ia tak mungkin berdusta, karena Allah tak menghendaki dusta sebagai tabiat seorang mukmin.

               Kata Ash Shodiqo atau biasa disebut dengan shiddiq. Dapat dimaknai beberapa hal kebaikan. Diantaranya benar, lurus dan jujur. Hal ini mengingatkan kita pada seorang sahabat Nabi pertama yang masuk Islam di luar kalangan keluarga. Beliau yang membenarkan dan meyakini peristiwa Isra wal Mi’raj meski banyak muslim saat itu yang masih bertanya-tanya. Beliaulah Abdullah bin Abi Quhafah yang karakternya itu diberi julukan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.

               Kak Syahril juga menceritakan kejujuran seorang pemuda bernama Muhammad SAW. Karakter itu yang mengantarkannya menjadi orang yang dipercaya di kalangan penduduk Mekkah. Kemudian dilirik seorang perempuan idaman di masa itu yang cantik dan saudagar kaya yaitu Khadijah binti Khuwailid. Dan karena karakter itu pula Islam tersebar karena hadir melalui lisan yang sejak dahulu sudah terpercaya (Al Amin). Kak Syahril juga mengingatkan kita kembali bahwa Allah telah menghadirkan Al Quran sebagai pedoman. Maka orang cerdas akan menggunakannya agar hidupnya lurus dan tak melenceng.

               Islam menuntun kita untuk selamat di Akhirat dan bahagia di Dunia. Dan Allah pun mentakdirkan segala ujian/masalah/musibah yang hadir tidak akan melebihi batas kemampuan kita.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (Q. S. Al-Baqarah : 286)

Maka jika kita memaknai ujian akademik seperti UTS, UAS dll sebagaimana ujian dari Allah maka tak perlu nyontek. Karena Allah saja percaya kita mampu. Fadhilah dari jujur adalah surga. Orang yang jujur akan diantarkan menuju kebaikan, dan kebaikan itu yang akan mengantarkannya menuju surga. Dan sebaliknya, dusta mengantarkan kita pada kejahatan. Dan kejahatan mengantarkan kita ke Neraka.

               Beliau juga menyampaikan kaidah menuntut ilmu dalam kitab Ta’lim Muta’alim yang berkenaan dengan dilema kejujuran sebagai mahasiswa

  1. Niat dalam menuntut ilmu
  2. Jangan menggunakan diri kita sebagai penuntut ilmu
    ※ Akademik : nyontek, nitip absen padahal ga hadir, ga beradab pada dosen.
    ※ Bisnis : Mengklaim sistem halal padahal belum sertifikasi, melebih-lebihkan keunggulan produk (anti pecah, anti robek, dan sebagainya).
  3. Memilih teman, pilih yang mengingatkan kita jika salah.

Kepada dosen dan orangtua, walaupun agendanya kebaikan, tetap harus dikomunikasikan dengan baik, seperti perizinan dan tak dusta. Iman Kunci Kejujuran : Jika Imannya baik maka dia akan jujur, jika Imannya lemah makan dia akan berdusta.

Tips jujur adalah tidak berbohong.

“Cara paling baik menghindari keburukan adalah dengan menghilangkan keburukan itu.”

Kemudian mulailah untuk terbiasa jujur pada diri kita sendiri. Seperti pantaskah kita dipuji? Layakkah mendapat amanah? Halalkah harta yang didapat?

Kemudian Kajian Islam kamiS Sore dengan judul “Jujur Penting Ga Sih?” ditutup pada pukul 17.45 WIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com