Kajian Islam kamiS Sore ft. Derismafi : Relativitas waktu dalam Al-Qur’an

Jakarta (27/04/2017) Masjid Ulul Albaab mengadakan Kajian Islam kamiS Sore featuring Derismafi dengan judul “Relativitas waktu dalam Al-Qur’an”. Kajian Islam kamiS Sore kali ini mengundang Ust. Fajar Tri Nugroho sebagai pembicara dan bertempat di Lobby Sergur (lantai 1 Gd. Ki Hajar Dewantara). Terhitung sebanyak 108 Peserta yang menghadiri kajian kamis sore itu. Kajian dibuka dengan tilawah bersama (Q.S. Al-Baqarah:38-43) yang dipimpin oleh Fauzi Ramadhan (Pendidikan Matematika 2016).

Selanjutnya ustadz Fajar mengawali materi dengan memaparkan tujuan Allah mengutus Nabi Muhammad SAW. untuk umatnya. Yaitu :

  1. Menjelaskan Al-Qur’an pada umatnya.
  2. Memberikan hikmahnya bagi kehidupan. Semua yg kita lakukan harus ada hikmah bagi kehidupan kita. Termasuk ilmu yg sekarang kita pelajari juga harus ada hikmahnya.

Setelah itu Ust. Fajar membahas tentang ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan sudah ada sejak 1500 tahun/15 abad yang lalu. Kebanyakan ilmuwan tidak pernah mengaku sebagai pencipta tetapi hanya mengaku sebagai penemu. Karena ilmu sejatinya adalah dari Allah bukan dari manusia. Menelaah Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah SWT berfirman :

ذٰ لِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa,”

          Pada ayat tersebut terdapat kalimat رَيْبَ (Rayb) yang artinya Ragu. رَيْبَ (Rayb) juga diartikan sebuah keraguan dengan diberi tuduhan. Keraguan itu hadir pada orang-orang yang bukan islam dan orang yang sedang mencari kebenaran. Awal kalimat pada Al-Qur’an langsung menegaskan bahwa tidak ada keraguan dalam Al-Qur’an. Tidak seperti buku-buku umum yang pasti pada halaman belakang terdapat kolom komentar karena ragu kebenaran dan kelengkapan bukunya.

Relativitas terkenal dengan tokohnya adalah Albert Einstein dan rumusnya E = mc^2. Relativitas tergantung pada cara pandang kita dan pengamat.

Sebelum Einstein, ada tokoh muslim yang lebih dulu mengenalkan relativitas dan membahasnya lebih dalam, yaitu ilmuwan pada 300 Hijriah bernama Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq Al Kindi dari Kindah (Arab Selatan) dan biasa dikenal dengan nama Al Kindi. Beliau adalah seorang yang ahli dalam bidang filosofi dan metafisika. Beliau memaknai Relativitas dengan ke-Esa-an Tuhan-Nya (Allah SWT) dalam teorinya.

Kemudian Ust. Fajar membahas tentang waktu. Waktu dibagi menjadi 3 yaitu Ajal, Waqt, dan Ashr.

  1. Ajal. Dijelaskan pada Q.S. Yunus ayat 49:

    قُلْ لَّاۤ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰهُ ؕ لِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ؕ اِذَا جَآءَ اَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَئۡخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

    “Katakanlah (Muhammad), Aku tidak kuasa menolak mudarat ataupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki. Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajal-nya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”

    Ajal (batasan waktu) manusia sudah Allah atur. Menurut Rasulullah dalam salah satu hadits :

    أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

    “Umur-umur umatku antara 60 hingga 70, dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (H.R. At-Tirmidzi)

    Setiap hari waktu berlalu, berarti ajal semakin dekat. Umur merupakan nikmat yang seseorang akan ditanya tentangnya.

  2. Waqt. Waqt adalah batasan. Contohnya adalah sholat. Sholat mempunyai batasan-batasan waktu. Seperti firman Allah SWT pada Q.S. An-Nisa ayat 103 :

    فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

    “Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan sholat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

  3. Ashr, yang artinya demi masa/demi waktu ashar. Pada Q.S. Al-Ashr ayat 1-3 menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Selain itu Nabi SAW. bersabda:

    لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

    “Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. At-Tirmidzi dari jalan Ibnu Mas’ud z. Lihat Ash-Shahihah, no. 946)

Semua makhluk Allah diciptakan untuk beribadah. Seperti dijelaskan pada Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56 Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Maka dari itu niatkan semua apa yang kita lakukan untuk beribadah kepada Allah dengan waktu yang kita miliki. Bukan semata-mata untuk memperoleh sesuatu dari dunia.

Kemudian Kajian Islam kamiS Sore featuring Derismafi dengan judul “Relativitas Waktu dalam Al-Qur’an” ditutup pada pukul 17.45 WIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com